Rabu, 18 Agustus 2010 - 08:36:01 WIB
Ine Febriyanti Lebih Suka Pakai Nokia Rp 200 Ribuan
Diposting oleh : Iksan
Kategori: Selebritas
- Dibaca: 732 kali
Aktris sekaligus sutradara Ine Febriyanti jera menggunakan ponsel mahal. Pengalamannya memiliki BlackBerry Bold setahun yang lalu cukup sudah. Peranti telekomunikasi push email pabrikan Kanada itu dibanting oleh anak keduanya Zeyin Abdullah Datau (5 tahun) hingga layarnya rusak berat. Setelah diservis menghabiskan biaya Rp 2 juta, ponsel itu ditenggelamkan Zeyin di bak mandi. Ine menservis lagi ponselnya menghabiskan Rp 1,5 juta.
"Habis diservis yang kedua BlackBerry saya hilang disambar maling ketika sedang bertandang ke rumah teman. Hitung-hitung Bold yang saya beli sekitar Rp 8 juta menjadi Rp 11,5 juta karena dua kali diservis. Akhirnya saya pakai ponsel Nokia yang harganya Rp 200 ribuan,” kata Ine kepada ponsel di kediamannya di kawasan Jakarta Selatan sambil tertawa berderai.
Meskipun perangkat telekomunikasi yang dimilikinya tak terlalu istimewa, bintang film Beth ini mempunyai beberapa hal unik untuk urusan telekomunikasi. Misalnya saja nomor ponselnya ada buntut angka 135. Menurut Ine, ibunya percaya angka 135 melambangkan kreativitas. Sebab, dari angka 1, naik ke angka 3 dan 5 seperti tangga. ”Jadi memang ada hitung-hitungannya,” pungkas perempuan kelahiran Semarang, 18 Februari 1976 ini.
Hal unik lainnya ialah Ine suka dengan RBT berisi suara Raja Dangdut Rhoma Irama. Bukan lagunya tetapi kata sambutannya: ”Selamat berjumpa lagi dengan saya Bang Haji bila Anda ingin bicara tunggu sebentar, sebuah lagu ....” terdengar di telinga pengguna ponsel bila menghubungi nomor pemenang Cover Girl Majalah Mode 1992 ini. ”RBT ini sebetulnya temuan seorang kameraman saya waktu syuting film Tuhan Jam 10 Malam,” tuturnya.
Menjadi Sutradara
Ine memang sedang menjajaki dunia penyutradaraan. Tuhan Jam 10 Malam adalah film psycho-thriller garapannya yang mengambil lokasi syuting di Yogyakarta beberapa bulan lalu. Kini sedang tahap post produksi. Film itu bercerita tentang pertentangan batin dalam diri seorang yang dari luar adalah orang baik-baik. Sang tokoh digambarkan seorang guru yang menekankan moralitas.
Ponsel melihat sendiri cuplikan film itu dari laptop milik Ine ternyata kaya akan angle kamera yang berbeda dengan kebanyakan sinetron Indonesia. Di antaranya Ine menggambarkan sang pelaku utama duduk sendirian di ruangan kelam dengan durasi cukup lama. Ine juga merombak Benteng Verdeburg di Yogyakarta menjadi bagian penjara yang cukup muram dalam salah satu scenenya.
Ine mengaku kini bukan aktris lagi tetapi sutradara. Ia juga pernah menggarap beberapa serial dokumenter tentang 7 rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia, film pendek Cynderella, serta terlibat dalam beberapa pementasan teater. Di luar dunia seni, Ine mengaku peduli lingkungan hidup. Rumahnya dibangun mengikuti tumbuhnya pohon dan bukan menebangnya. Seorang anaknya belajar di sekolah alam di kawasan Jakarta Selatan.
Istri dari Yudi Datau ini masih menjadi seorang pencinta alam. Ia kerap bersama keluarganya berkemah di kawasan Cibodas. Menurut Ine, ia dan Yudi memang sama-sama suka naik gunung. Pertemuan mereka kali pertama di kaki Gunung Ciremai. Ketika itu Ine baru turun dan Yudi hendak naik. ”Yudi kehabisan bekal dan saya berikan. Sudah itu lama nggak bertemu dan tahu-tahu sama-sama terlibat sebuah produksi Mira Lesmana,” kenangnya. irv